Analisis Masa Jabatan Mikel Arteta: Antara Keberuntungan dan Pragmatisme Menuju Gelar

Analisis Masa Jabatan Mikel Arteta: Antara Keberuntungan dan Pragmatisme Menuju Gelar

Mikel Arteta kembali menjadi subjek diskusi hangat mengenai durasi kepemimpinannya di Arsenal yang tergolong panjang bagi standar manajer klub papan atas. Meski telah menduduki kursi manajer sejak akhir 2019, raihan trofi Arteta dinilai masih minim jika dibandingkan dengan dukungan waktu dan finansial yang diterimanya. Mantan penyerang Premier League, Jimmy Floyd Hasselbaink, memberikan kritik tajam dengan menyebut Arteta “beruntung” masih bisa bertahan di klub sebesar Arsenal.

BACA JUGA : Harry Maguire: Tekanan Besar di Manchester United Bisa Menghancurkan Karier Pemain

Koleksi Trofi dan Ekspektasi Klub Elit

Sejak mengambil alih kendali tim pada tahun 2019, Arteta baru menyumbangkan satu gelar Piala FA dan dua trofi Community Shield. Bagi klub dengan sejarah dan basis massa seperti Arsenal, koleksi gelar tersebut dianggap belum cukup untuk memvalidasi periode jabatan selama hampir tujuh tahun.

Meski demikian, progres di Premier League menunjukkan arah positif. Arsenal hampir memenangkan liga pada musim-musim sebelumnya dan musim ini berada dalam posisi sangat kuat. Hingga pekan ke-31, The Gunners memimpin klasemen dengan keunggulan signifikan sembilan poin dari pesaing terdekatnya.

Kritik Hasselbaink: Investasi Besar dan Kedalaman Skuad

Dalam komentarnya di Sky Sports, Hasselbaink menyoroti besarnya dana yang telah dikucurkan klub untuk memenuhi visi taktis Arteta. Menurutnya, dengan belanja pemain yang masif dalam dua tahun terakhir, Arsenal seharusnya mampu tampil lebih dominan.

“Jangan lupa sudah berapa lama dia berada di sana. Mari lihat berapa banyak yang telah dia habiskan dalam dua tahun terakhir—banyak sekali uang,” ujar Hasselbaink. Ia menambahkan bahwa dengan kualitas bangku cadangan yang sangat kuat saat ini, wajar jika ekspektasi publik meningkat jauh melampaui sekadar posisi “nyaris juara”.

Perubahan Gaya Main: Dari Estetika ke Pragmatisme

Salah satu poin menarik yang diangkat adalah transformasi gaya bermain Arsenal. Musim ini, Arsenal sering dianggap terlalu pragmatis dan sangat mengandalkan situasi bola mati (set pieces) untuk memecahkan kebuntuan, alih-alih permainan terbuka yang mengalir indah.

Hasselbaink mengakui bahwa pertahanan solid yang “tidak banyak memberikan peluang” adalah kunci untuk memenangkan liga, namun sebagai pecinta sepak bola, ia merindukan identitas estetika Arsenal yang lama. “Menurut saya, dia sangat beruntung bisa bertahan selama ini di klub sekelas itu. Mereka pasti sangat percaya padanya. Hal seperti itu tidak sering terjadi di sepak bola modern,” tambahnya.

Musim Penentuan 2025/2026

Musim ini menjadi ujian pamungkas bagi kredibilitas Arteta. Dengan keunggulan sembilan poin, kegagalan untuk mengunci gelar juara akan memperkuat argumen para kritikus seperti Hasselbaink bahwa Arteta hanya mendapatkan kemewahan waktu yang tidak dimiliki manajer lain.

Sebaliknya, jika trofi Premier League berhasil mendarat di Emirates Stadium, maka pragmatisme taktis dan kesabaran manajemen dalam mempertahankan Arteta akan dianggap sebagai strategi jangka panjang yang visioner. Fokus saat ini tetap pada menjaga konsistensi di sisa pertandingan musim ini guna membuktikan bahwa kepercayaan klub selama sembilan tahun terakhir bukanlah sekadar keberuntungan belaka.